Aceh // Ujungmata – Tuduhan keras yang dilontarkan kelompok Amas Muda terhadap Bupati Aceh Tenggara, HM. Salim Fachri, SE, MM, yang menyebut publik telah menyadari kehadiran “pemimpin tuli dan otoriter”, mendapat perlawanan frontal dari Tim Pemenangan Salim Fachri (TIM SAH). Pernyataan tersebut dinilai sebagai kritik serampangan, miskin data, dan sarat muatan politis yang berpotensi menyesatkan opini publik.

Koordinator Tim Pemenangan Salim Fachri Wilayah Lawe Bulan, Bakrio Harsono, secara terbuka membantah narasi Amas Muda yang menurutnya jauh dari realitas kepemimpinan di lapangan, terutama dalam penanganan bencana banjir yang baru-baru ini melanda Aceh Tenggara dan wilayah sekitarnya.

“Saya sebagai Tim Pemenangan TIM SAH wilayah Lawe Bulan merasa perlu meluruskan kebohongan narasi yang disebarkan Amas Muda. Kandidat yang kami perjuangkan bukan pemimpin yang bersembunyi di balik meja, tetapi hadir dan bergerak saat rakyat membutuhkan,” tegas Bakrio, Sabtu (3/1/2026).

Ia menyebut, saat banjir menerjang sejumlah kecamatan di Aceh Tenggara, Bupati HM. Salim Fachri justru berada di garis depan, memastikan bantuan tersalurkan secara cepat dan merata. Bahkan, kepedulian pemerintah daerah tidak berhenti di wilayah administratif Aceh Tenggara.

“Bantuan tidak hanya disalurkan di Aceh Tenggara, tetapi juga sampai ke Kabupaten Gayo Lues, tepatnya di Kecamatan Putri Betung. Fakta ini bisa diverifikasi, bukan sekadar klaim,” katanya menegaskan.

Tim SAH menilai, label “pemimpin tuli dan otoriter” yang disematkan Amas Muda merupakan tuduhan sembrono yang tidak disertai data, indikator kebijakan, maupun contoh konkret. Kritik semacam ini dinilai lebih menyerupai agitasi politik ketimbang kontrol sosial yang sehat.

“Jika pemimpin yang turun langsung saat bencana, membuka ruang koordinasi, dan menggerakkan sumber daya disebut tuli dan otoriter, maka kami patut bertanya: di mana sebenarnya Amas Muda saat rakyat membutuhkan?” sindir Bakrio.

Lebih lanjut, Tim Pemenangan Salim Fachri menuding Amas Muda sengaja menutup mata terhadap kerja-kerja nyata pemerintah daerah demi membangun citra buruk yang simplistik dan provokatif. Mereka mengingatkan bahwa demokrasi tidak tumbuh dari tuduhan kosong, melainkan dari kritik yang jujur dan bertanggung jawab.

“Kritik tanpa data dan tanpa itikad baik bukan lagi kontrol sosial. Itu sudah masuk wilayah pembunuhan karakter yang berbahaya bagi pendidikan politik masyarakat,” ujarnya.

Tim SAH juga mengajak publik untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi hitam-putih yang menafikan kompleksitas kerja pemerintahan, terlebih dalam kondisi bencana dan keterbatasan anggaran daerah.

“Kami tidak menutup mata bahwa setiap kepemimpinan memiliki kekurangan. Namun menuduh secara kasar tanpa dasar, sementara fakta menunjukkan kehadiran dan respons nyata pemerintah, adalah tindakan yang tidak adil dan tidak beretika,” pungkas Bakrio.

Hingga berita ini diturunkan, pernyataan Amas Muda masih memantik pro dan kontra di tengah masyarakat. Publik diharapkan mampu bersikap kritis dan cerdas dalam memilah kritik yang berbasis fakta, agar demokrasi di Kabupaten Aceh Tenggara tidak dikotori oleh opini sesat dan tudingan tanpa tanggung jawab.

Tinggalkan komentar

Quote of the week

“Hidup memang sulit dimengerti, tapi sulitnya hidup membuat kita banyak mengerti.”

~ Adv.Mirwan.,SH.,MH

@2025 – www.ujungmata.id – Hak Cipta Dilindungi Undang-undang